Renungan Warta 5 April 2020

Teladan Kristus Sebagai Seorang Hamba

Bacaan : Markus 10:45, Yohanes 13:14-15

“Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Markus 10:45)

Pelayanan yang baik dan efisien sangat bergantung kepada pola kepemimpinan yang baik dan benar. Pola kepemimpinan yang dinyatakan dalam Alkitab merupakan suatu pola yang Tuhan Yesus ajarkan kepada para murid-Nya, yaitu kepemimpinan yang berhati hamba (Mrk.10:43-45). Kepemimpinan seperti ini merupakan topik yang banyak dibicarakan oleh para motivator, karena pola kepemimpinan ini sangat berpengaruh bagi kehidupan masyarakat.

Dalam hidup-Nya, Kristus memberi contoh dengan mempraktekkan mencuci kaki para murid. Dia juga memerintahkan agar mereka mengikuti teladan-Nya (Yoh. 13:14, 15). Namun, berhati hamba (pelayan) merupakan hasil pembentukan karakter dalam diri seorang pemimpin. Pemimpin yang baik dan benar tidak hanya melengkapi diri tapi juga teladan hidup dan karakter yang dapat diteladani oleh mereka yang dipimpinnya. Karakter hidup seseorang hamba dapat dijabarkan sebagai berikut: Berkorban, artinya rela untuk meletakkan kepentingan pribadi pada urutan yang terakhir dan mendahulukan kepentingan orang lain/organisasi, dan utamanya, Tuhan. Ulet artinya tekun, kerja keras, tahan banting dan tidak mudah berputus asa. Demi Kristus, artinya hidup kepemimpinannya selalu mengarah kepada Kristus, dan selalu ingin menyenangkan hati-Nya. Anti kekerasan, artinya selalu mencari jalan untuk win-win solution atau langkah terbaik demi pertumbuhan bersama; tidak memakai “tangan besi” ataupun kekerasan, menekan musuh dan mencari kemenangan untuk diri sendiri. Kejujuran, artinya dapat dipercaya (berintegritas). Sifat tersebut di atas ini menjadi sifat yang sangat langka pada zaman ini. Umumnya, seorang pemimpin seringkali bingung dan bimbang mengambil keputusan karena sifatnya yang tidak dapat dipercaya.

            Hari ini, apakah karakter seorang BUDAK (hamba) telah menjadi pola kepemimpinan dan kehidupan kita, anak-anak Allah, yang  hidup di tengah dunia yang sangat haus akan kekuasaan, kedudukan dan ketenaran dalam setiap aspeknya?

MENGAPA KEPEMIMPINAN BERHATI HAMBA SANGAT PENTING? APAKAH SAAT INI KEPEMIMPINAN GEREJA TELAH MENJALANKAN KEPEMIMPINAN BERHATI HAMBA?

– Perspektif edisi no. 171

Categories Warta