Renungan Warta 3 Mei 2020

Buah Roh Kudus

Bacaan : Galatia 5:1-26

“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.” (Galatia 5:22-23)

Bagi orang Kristen dewasa rohani, pertumbuhan bukanlah tergantung dari penampilan eksternal yang bersifat lahiriah, yang ditunjukkan di depan orang lain-baik dalam kelakuan, pelayanan, persembahan-melainkan bergantung pada kemajuan internal kerohanian, yang mungkin tidak nampak dari luar. Pertumbuhan itu, sampai pada satu tahap, secara otomatis akan nampak dengan sendirinya, bagaikan pertumbuhan sebuah pohon yang sehat, pada saatnya otomatis akan berbuah. Demikian pula dengan pertumbuhan rohani.

Dalam kehidupan sehari-hari, mereka yang bukan anak-anak Tuhan bisa menyatakan kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah-lembutan, dan penguasaan diri. Namun, hal ini sangat berbeda dengan buah Roh yang Paulus ungkapkan pada bagian Galatia 5:22-23. Apabila orang-orang duniawi berusaha untuk menyatakan kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah-lembutan, penguasaan diri dengan kekuatan dan usahanya sendiri, bahkan berusaha dengan pernyataan eksternal itu mengubah sesuatu yang bersifat internal, tetapi bagi kita anak-anak Tuhan justru kebalikannya.

Bagi kita anak-anak Tuhan yang kita prioritaskan adalah penuntutan kelimpahan dalam kerohanian pada saat Roh  Kudus memenuhi hati kita sehingga Ia menguasai tiap aspek kehidupan kita dan sebagai akibatnya buah Roh keluar secara otomatis. Kehidupan anak-anak Tuhan bukanlah suatu kehidupan yang sehari-harian terus terikat dengan berbagai macam torat dan peraturan; juga bukanlah kehidupan yang dibingungkan dengan berbagai usaha perbaikan diri agar menjadi orang yang berpenampilan penuh kasih, kesabaran, lemah lembut, namun melupakan hal yang sangat prinsipal yakni pertumbuhan dalam hidup rohani. Ketika Firman Tuhan itu memenuhi hati kita dan Roh Kudus menguasai seluruh kehidupan kita secara otomatis kita akan menghasilkan buah Roh Kudus dalam kehidupan sehingga kita dapat menjadi teladan dan berkat bagi orang lain.

APAKAH BUAH ROH KUDUS MERUPAKAN HASIL USAHA KITA DALAM MENJAGA MORAL? MENGAPA KITA SERINGKALI GAGAL MENYATAKAN BUAH ROH DALAM HIDUP KITA?

-Perspektif edisi no. 172