Renungan Warta 10 Mei 2020

Kebahagiaan Mengikuti Dia

Bacaan : Matius 8:23-27

“Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditimbus gelombang, tetapi Yesus tidur.”  (Matius 8:23-27)

Akhir tahun lalu, seorang Bapak menceritakan pengalaman pahit keluarganya. Sambil mencucurkan air mata, bapak ini  mengisahkan kisah pilunya. Saat baru saja putri pertamanya dilahirkan, sang istri jatuh karena terserang stroke ringan. Sejak saat itu, sang istri harus keluar dari pekerjaannya dan menjalani proses pemulihan yang cukup panjang. Hari demi hari dilalui dengan kesusahan, untuk mengurus anak yang baru lahir, maupun istri yang tak berdaya. Tetapi, hal itu belum seberapa. Ketika sang istri telah pulih dan kembali sehat, Tuhan kembali menganugerahkan putri kedua dalam keluarganya. Tapi siapa sangka, baru beberapa bulan si istri melahirkan, ia kembali jatuh sakit. Namun, kali ini bukan tidak sembuh, melainkan pergi untuk selamanya.

Saat mendengar kisah macam ini, mungkin akan muncul pertanyaan dalam benak kita, “Mengapa Tuhan? Di manakah Tuhan?” Bagi kita, Tuhan seharusnya bisa memelihara orang-orang yang setia kepada-Nya, berbakti kepada-Nya, dan melayani Dia. Namun, konsep yang demikian bukanlah konsep yang berlandaskan pada firman Tuhan. Coba kita perhatikan kisah kehidupan yang dimiliki murid-murid Tuhan sendiri. Mereka adalah orang-orang yang Tuhan pilih untuk mengikuti Dia. Hidup mereka sudah diabdikan secara total untuk Tuhan. Tapi, toh firman Tuhan dengan jelas menyatakan bahwa orang yang dekat dengan Tuhan, melayani Tuhan, setia kepada Tuhan, bahkan hidup bersama-sama dengan Tuhan, tetap dapat dilanda masalah yang besar.

Jika demikian, apa “untungnya” menjadi murid dan pelayan Tuhan? Dari bacaan Alkitab hari ini kita melihat dan belajar bahwa kenikmatan dan keuntungan menjadi murid Tuhan, bukan terletak pada kelancaran hidup, melainkan pada hadirnya Allah yang beserta dengan kita, yang tidak akan pernah membiarkan kita jatuh sampai tergeletak, membiarkan kita dicobai melebihi kekuatan kita, dan yang pertolongan-Nya tidak akan terlambat. Kebahagiaan mengikut Tuhan terletak pada keindahan berelasi dengan Dia di dalam setiap lika liku kehidupan.

            APAKAH YANG MENJADI KEBAHAGIAAN ORANG PERCAYA? SUDAHKAH KITA DAPAT MERASAKANNYA?

– Perspektif edisi no. 170