Renungan Warta 17 Mei 2020

Kesombongan Manusia

Bacaan : Lukas 18:9-14

“Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan (Lukas 18:14b)

Kesombongan manusia seringkali tidak membuahkan hasil baik, tapi justru menambah kesengsaraan bagi orang lain. Dalam bacaan Injil hari ini, diceritakan dua orang yang pergi ke Bait Allah, satu orang Farisi dan yang lainnya adalah pemungut cukai. Sudah tentu sikap mereka berbeda. Dalam doanya, orang Farisi berkata: “Ya Allah, aku mengucapkan syukur pada-MU, karena aku tidak sama dengan semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah, dan bukan juga seperti pemungut cukai, dst” (ay. 11-12). Dengan segala kesombongannya, orang Farisi menganggap doanya yang hebat itu didengar, karena apa yang telah dilakukannya, menyenangkan hati Tuhan dan sesama.

Lain lagi halnya dengan si pemungut cukai yang berdiri jauh-jauh dan tidak berani menengadahkan kepalanya ke langit. Ia memukul dirinya sendiri dengan penuh penyesalan, dan berkata: “Ya Allah, kasihanilah aku yang berdosa ini (ay. 13).” Kita tahu bahwa pekerjaan pemungut cukai sehari-hari adalah memeras orang agar dia mendapatkan banyak keuntungan. Cara kerja demikian, ia sesali karena ia tahu bahwa pekerjaan yang ia lakukan, melawan hukum Tuhan. Dengan kejujuran dan penyesalan hati yang begitu mendalam atas perbuatannya, Tuhan mendengarkan dan mengabulkan doanya.

Dalam ayat 14, Yesus memberikan jawaban , siapakah yang layak dan dibenarkan di hadapan Tuhan ketika menghadapi takhta-Nya. Orang Farisi pulang ke rumah dengan tangan kosong karena ia tidak layak di hadapan Allah. Kesombongannya telah membawanya jauh dari kasih Kristus dan tidak dibenarkan di hadapan Tuhan. Kerendahan hati dan penyesalan si pemungut cukai menjadikannya dibenarkan di hadapan Allah. Karena itu, marilah kita menghadap Tuhan dengan penuh kerendahan hati dan penuh penyesalan, maka Ia akan membenarkan kita dengan membawa berkat-berkat yang tidak ternilai. Tuhan Yesus berkata; “Yang kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa” (Mat. 9:13)

APAKAH MAKNA KESOMBONGAN MENURUT FIRMAN TUHAN? APA YANG BERKENAN KEPADA ALLAH TATKALA KITA DATANG KEPADA-NYA?

– Perspektif edisi no. 165

Categories Warta